Seorang gadis berparas Athena itu sedang duduk menopang dagu di meja ujung perpustakaan. Wajahnya terlihat lesu, dan matanya yang tak fokus membaca buku heroik di hadapannya itu. Orang-orang sekitar, sangat penasaran gerangan yang terjadi dengan Phyta, keturunan sang Dewi Athena. Pasalnya, tumben sekali ia melamun, dan menekuk wajahnya lesu. Phyta dikenal dengan kebijaksanaannya di usianya yang masih muda. Ia juga merupakan turunan dari sang Dewi Athena, di dalam sekolah ia terkenal akan kecerdasan dan juga ambisinya untuk menjadi seperti ibunya.

    Di sepanjang hidupnya, nama ibunya selalu diagung-agungkan oleh orang banyak. Bahkan, manusia di bawah sana juga memujanya.

     'Oh, Dewi Athena. Sungguh pandai sekali dirimu. Tidak hanya kepandaianmu, tapi juga kebijaksanaanmu.'

     Hidup menyandang sebagai putri Dewi yang dipuja-puja sepanjang masa sangatlah berat bagi Phyta. Ia dituntut harus sempurna di depan mata khalayak. Seorang putri dari Dewi Athena yang suatu saat akan menggantikan posisi sosok sempurna dalam paras, sikap, dan juga sifatnya yang sangat bijak.

     Demi ambisinya membuktikan kelayakan dirinya sebagai putri Athena. Phyta memikirkan berbagai cara untuk mengalahkan lawan-lawannya pada ujian akhir esok dan mendapatkan nilai tertinggi. Dua orang yang sangat ia antisipasi pada ujian akhir ini adalah Ades, anak dari Dewa penguasa lautan dan Charity, anak dari Dewa api sang Hephaistos. Mereka terkenal kuat dan sulit dikalahkan. Namun bagi Phyta, mereka adalah imun baginya untuk lebih kompetitif dalam ujian.

     Tersadar dari lamunannya, netra Phyta menangkap seorang pria yang baru saja masuk ke dalam perpustakaan membawa buku panduan ujian akhir dan duduk terhalat satu meja di depannya. Tak sengaja ia melihat name tag pria itu, 'King Ades' dibacanya.

    "Ow, inikah keturunan Poseidon? Cukup tampan," gumamnya.

                                            . . . .


     Ujian akhir yang ditunggu-tunggu pun tiba. Phyta sudah sangat siap menghadapi ujian ini, ia sudah mempelajari banyak hal dari buku. Seluruh murid berkumpul di aula sekolah untuk mendengarkan arahan untuk ujian akhir sebelum mereka benar-benar menjadi seorang Dewa dan Dewi yang layak nantinya.

     "Saya akan mengumumkan beberapa hal yang harus kalian ketahui sebelum menjalankan ujian akhir ini," ucap sang Kepala Sekolah lantang mendominasi suara di aula.

    "Ujian akhir ini tidak semudah yang kalian bay angkan, maka dari itu bentuklah sebuah kelompok dengan tiga orang anggota. Kalian akan menghadapi berbagai rintangan yang sangat sulit nantinya. Ah... perlu kalian ketahui, dibalik ujian ini ada sesuatu yang harus kalian temukan. Temukanlah apa yang disembunyikan itu, aku akan memberikan nilai terbaikku bagi siapa pun yang menemukannya."

     Mendengar hal itu, Phyta menjadi sangat bersemangat. Seluruh murid telah membentuk kelompok dengan cepat, tidak ada satu pun yang mengajaknya bergabung dalam kelompok. Sepertinya mereka tahu bahwa bersekelompok dengannya akan sangat menutupi kepandaian yang lainnya. Namun, tidak hanya ia seorang diri yang tersisihkan dari pembentukan kelompok ini. Anak dari Poseidon dan Hephaistos juga tersisihkan.

    "Sepertinya memang benar mereka takut untuk bersekelompok dengan kita karena keturunan Dewa-Dewi yang melegenda?" ucap Pyhta dengan tawa setelahnya sambil berjalan mendekat ke arah kedua orang yang sama tersisihkan dengannya itu.

     "Cukup, Phyta. Tahan amarahmu, kita harus bergegas mencarinya bukan?" ucap Charity menenangkan.

     "Benar, kita harus menemukan hal yang disembunyikan itu."

    "Apa yang kau maksudkan?" tanya King Ades kebingungan.

     "Kau ingat yang disampaikan Kepala Sekolah tadi? Itulah yang anak Hephaistos maksud."

     "Kalau begitu, kita harus segera pergi atau kita akan terus bermimpi mendapatkan nilai yang kau maksud itu," ucap King Ades bersemangat.


                                      . . . .


     Akhirnya, mereka bergegas menuju Dungeon dan  menghadapi berbagai jenis monster, dari monster yang seperti kelinci, anjing, serigala, laba-laba besar, bahkan puluhan ekor naga. Menurut mereka, menaklukan Dungeon ini sangatlah mudah. Dalam hitungan menit saja, mereka telah mencapai level teratas dari Dungeon.

     "Aku tidak tahu maksud dari ujian akhir ini, apakah mereka bercanda dengan kita? Bahkan, kekuatanku tidak sepenuhnya terpakai," ucap Ades sembari meninju monster dengan tangan kosongnya.

     "Jangan sombong atau kau cepat mati," balas Charity pedas.

    "Kau sebut mati? Aku tidak akan pernah mati, kau ingat?" balas King Ades tersinggung.

     "Itu yang sering dikatakan manusia jika menemukan orang yang sombong," Charity memang suka sekali bergaul dengan manusia. Ia sering kali merubah wujudnya hanya untuk berbaur dengan para manusia, atau bahkan membantu mereka tetap hangat dengan menyalakan perapian. Ia suka mempelajari hal baru di alam bawah sana, sebelum Hephaistos menjemputnya untuk kembali ke tempat ia seharusnya.

    "Sudah, jangan bertengkar. Sepertinya aku tahu maksud dari ujian akhir ini," ucap Phyta menenangkan.

    "Apakah itu?" tanya King Ades tak sabar.

    "Kebersamaan, kepedulian, dan kebijaksanaan."

    "Mengapa kau bisa menyimpulkan hal itu?" tanya Charity penasaran.

    "Lihatlah kita sekarang berada, Dungeon. Sebuah Dungeon yang sangat mudah untuk ditaklukkan, bahkan tanpa kekuatan yang kita telah asah selama di sekolah ini. Bukankah ini mengajarkan kita sebuah kebijaksanaan untuk memakai kekuatan kita untuk dipakai seharusnya?"

    "Sepertinya kau benar," Charity mengangguk mengerti diikuti oleh King Ades.

     "Lalu bagaimana dengan simbol Kebersamaan dan kepedulian?"

     "Kelompok adalah simbol kebersamaan, dan kepedulian."

     "Kau sangat cerdas, Phyta!" puji King Ades.

     "Kalau begitu, kita harus segera keluar dari Dungeon ini dan memberitahukan penemuanmu."


                                       . . . .


      Karena kepandaiannya, Phyta mendapatkan julukan 'Exairetikí Noimosýni' yang berarti kepandaian yang luar biasa. Kelompok mereka juga mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian.

     "Kau pantas mendapatkan julukan itu," senyum Charity mengembang melihat mahkota kepandaian di atas kepala Phyta.

     "Aku juga tidak tahu bagaimana jika tidak ada kau di sana. Mungkin aku masih terjebak di dalam Dungeon yang membosankan itu," ucap King Ades dengan wajah tengilnya.

     "Kalian diam-diam ya, aku akan pergi ke dunia bawah dan menikmati hidup sebagai manusia."

     "Benarkah, Ades? Aku juga sama sepertimu," timpal Charity.

      "Ya, aku penasaran dengan dunia bawah. Aku sudah muak melihat dari kejauhan, di dunia atas sangat membosankan."

      "Sepertinya kita akan berpisah dengan jalan kita masing-masing setelah ini. Aku harap kita dapat bertemu kembali," ucap Phyta denga senyum manisnya.

      "Aku harap juga begitu," balas Charity.


                                           . . . .


      Upacara kelulusan yang ditunggu-tunggu telah tiba. Kepala Sekolah akan mengumumkan kelulusan peserta didik yang lulus. Tentu saja King Ades, Charity,  Phyta lulus dan melempar topi kelulusan dengan bangganya. Ketiganya, tersenyum satu sama lain seolah-olah mengisaratkan bahwa setelah lulus mereka pasti akan bertemu kembali.

     Setelah beberapa waktu berlalu, ketiga sejoli itu hidup dengan keinginan mereka masing-masing. King Ades dengan rasa penasarannya kepada dunia manusia, dan menyamar dengan nama Raihan. Charity yang senang mempelajari tentang manusia, dan Phyta yang dikenal dunia manusia sebagai Iyen juga senang berbaur dengan manusia seperti halnya, King Ades.

     Bahkan, Dewa pun tidak tahu apa yang akan terjadi dengan ketiga orang itu nantinya.

                                            . . . .