"ᴍ ʏ  ᴍ ᴇ ᴍ ᴏ ʀ ɪ ᴇ ꜱ"

Seorang wanita paruh baya terlihat sibuk di taman jalan menyeka peluh di dahinya sesekali dengan ijuk ditangannya. Ia tidak tahu seorang anak sedang mencoba menyebrangi jalan ke arahnya dengan setangkai permen memenuhi mulutnya.

“Mama!” teriaknya anak kecil itu sambil menggoyangkan kuncirnya menyebrangi jalan.

“Talitha, jangan ke sini nanti kamu tertabrak!” ucap sang ibu panik menyadari anaknya hendak mendatanginya. Naas, Talitha tak menghiraukan ibunya, dan tetap berjalan dengan sumringah menuju kepadanya.

“Bunda lihat, Talitha tidak apa-apa kan? Talitha tau kok, kalau menyebrang harus hati-hati, lihat kanan-kiri. Bunda gak usah khawatir, Talitha udah gede. Udah bisa naik angkot sendiri, ambil nasi sendiri, ganti baju sendiri….”

     “Oh iya, bunda sudah tau belum? Talitha udah bisa naik sepeda sendiri loh hehehe. Aang pinjemin Talitha sepeda, bun. Katanya Talitha boleh pake, karena Aang punya banyak di rumah. Enak ya, bun kalau punya toko besar sendiri. Talitha pengen … banget beliin bunda toko yang besar juga kaya punya Aang. Biar bunda gak usah capek bersihin taman ini,” ucap Thalitha panjang dan penuh angan pada ibunya. Sang ibu hanya tersenyum mendengar antusias dan cita-cita anaknya dan mengelus rambut si anak.

    “Talitha belajar yang bener ya … biar bisa beliin bunda tokonya. Janji?”

    “Janji, bun! Talitha bakal ranking 1 terus pokoknya, biar bunda bangga sama Talitha.”

     Senyum Talitha membuat ibunya menghangat. Rasa letih yang ia rasakan tadi seketika menghilang diterpa angin, inilah alasan ia dapat bertahan bekerja selama ini. Senyum Talitha di pagi hari adalah obat letihnya. Walaupun, membesarkan Talitha seorang diri itu sulit. Ia akan merasa bahagia setiap saat dengan Talitha di sisinya.

. . . .

    Talitha bangun pagi buta, pasalnya hari ini adalah hari pertamanya bekerja disebuah stasiun televisi ternama. Setelan baju khas penyiar sudah ia pakai lengkap dengan high heelsnya, cermin di depannya memperlihatkan perangainya yang cukup mempesona. Talitha yang sekarang sudah berbeda, ia terlihat seperti gadis-gadis kebanyakan dimata ibunya. Sang ibu hanya tersenyum dalam diam melihat tingkah sang anak berpose di depan cermin.

    “Talitha, makan dulu nanti kamu sakit.”

    "Iya, bundaku sayang."
 
     Talitha berjalan menuju meja makan, dan mencium tangan kanan ibunya, "Oh, iya. Bunda udah tau belum? Hari ini hari kasing sayang ... sejak kecil Talitha bangga banget sama bunda. Bunda ngajarin Talitha banyak hal, Talitha sayang bunda. Happy Valentine and happy birthday, bunda."

   Talitha tersenyum bahagia. Baginya sosok ibunya itu adalah panutan hidupnya, seseorang yang sangat ia sayangi. Di masa lalu, sekarang, dan masa depan.

   Cinta tidak harus dari seorang lawan jenis, bagi Talitha cinta dari ibunya adalah cinta yang tidak akan kunjung habisnya. Dia sangat menyayangi ibunya, lebih dari apapun.

   Kita lihat saja, apakah ada seseorang yang akan menaklukannya?

. . . .