Hutan ini sangat menakutkan, sunyi, dan gelap. Jika saja aku tidak sedang bersembunyi dari ‘Kau pasti tahu dia siapa’, seorang pembunuh berdarah campuran itu, pasti aku tidak akan terdampar di tempat seperti ini. Cuacanya juga sangat dingin, bisa-bisanya aku melupakan jas mantelku waktu itu.
Sepertinya, membuat sebuah sihir pengganti sang Hephaistos di sini ide yang cukup bagus. Ku gerakkan tongkat sihirku ke sebuah batang kayu “in-SEN-dee-o!”
Sebuah cahaya terang muncul dari tongkat sihirku, setidaknya cahaya ini bisa membuatku merasa lebih hangat daripada sebelumnya. Bisa hidup sampai saat ini saja membuatku bersyukur, kau tahu dia tidak akan membiarkanmu hidup jika kau berurusan dengannya.
Aku tidak tahu, hutan mana yang aku singgahi setelah melakukan apparate tadi, yang jelas di hutan ini tidak ada yang namanya manusia serigala atau semacam itu, seperti yang dikatakan orang-orang Diagon Alley padaku.
Ah, mengingat Diagon Alley aku sangat merindukan segelas coklat panas warung bibi Weiss. Andai saja, aku tidak mewarisi kalung berharga itu.
“Barang kutukan,”ucapku kesal sembari melempar batu ke pohon besar di depanku.
🎶Sasil oraejeonbuteo neoreul johahago isseossdago🎶
“Aw!” tiba-tiba bunyi seorang gadis yang terlihat kesakitan muncul di balik pohon yang ku lempar dengan batu tadi.
“Kau sangat kejam!” ucapnya tiba-tiba membuatku bingung. Ah, tidak seperti itu aku hanya berpura-pura. Bisa saja dia makhluk ‘jadi-jadian’ bukan?
Tentu saja, aku tidak salah. Mana mungkin ada seorang gadis yang seumuran dengan adikku berkeliaran di hutan seperti ini tengah malam, kecuali jika dia seorang tanda kutip yang aku katakan tadi.
“Kenapa kau diam saja? Lihatlah berkat ulahmu itu, jidatku yang mulus ini jadi terlihat jelek,” cicbirnya.
“Ulahku? Tidak. Aku tidak melakukan apapun, kau saja yang tiba-tiba datang mengaduh kesakitan. Dasar mudblood.”
“Mudblood? Apa yang kau katakan?” tanyanya terlihat bingung.
“Kau tidak tahu? Ah…, aku tau. Kau tidak mengetahuinya karena kau seorang mudblood,” tawaku menggelegar.
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, tapi aku tahu itu pasti sesuatu yang buruk. Jangan katakan itu, kau tidak tahu perkataanmu itu pasti akan melukai perasaan orang lain jika mengetahuinya.”
Aku terdiam sepersekian detik karena ucapannya, “Lupakan. Kau sendiri sedang apa di hutan belantara ini?”
“Aku tersesat dari rombonganku, lebih tepatnya di tinggal,” ucapnya dengan raut sedih dan memandang langit.
“Hm, aku tau perasaanmu,”
“Mendekatlah, aku akan mengobati luka lebammu itu,” ucapku bersiap menggerakkan tongkat sihirku.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya bingung dan berbalik menatapku.
“Ikuti saja kataku, kau akan melihat sebuah keajaiban,”
“eh-PIS-kee!” ucapku mengucakan mantra penyembuhan pada dahinya itu. Luka lebam pada dahinya sudah mulai sembuh dengan sendirinya. Ia awalnya terlihat kebingungan, namun melihat ujung tongkatku mengarah ke jidatnya membuatnya dengan cepat memgang dahi kerutnya itu.
“Bagaimana bisa? Kau seorang dukun?” tanyanya penasaran.
“Bukan. Aku seorang penyihir dari Scoutlandia,” ucapku penuh penekanan supaya ia terlihat segan padaku.
“Ahahaha, apa kau bilang? Penyihir? Kau sungguh lucu,” ia tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku tadi. Kurang ajar.
“Hidup di jaman sekarang ini, tidak ku sangka masih ada seseorang yang mempercayai dongeng sepertimu,” lanjutnya.
“Kau seorang manusia?” tebakku.
Salah.
Tolong tarik pertanyaanku tadi, menjengkelkan sekali. Orang di depanku ini tidak hentinya tertawa terbahak-bahak karena pertanyaanku barusan. Aku tau dia memang seorang mudblood.
Terlihat kedinginan, ia menggosokkan tangannya di depan perapian yang ku buat tadi, “Ah, maaf. Pertanyaanmu sangat lucu, tentu saja aku seorang manusia. Kau tidak ingin berkenalan denganku?”
“Aku Nay dari Kanada. Aku menjelajahi hutan ini untuk penelitian mata kuliahku,” ucapnya sambil mengulurkan tangan padaku.
Aku hanya melihat uluran tangannya itu, ingin sekali aku menariknya tangan itu dan mengucapkan namaku. Namun, aku masih teringat ucapan ayahku tentang mudblood.
‘Jangan percaya dan dekat dengan seorang manusia, kita kaum yang hebat dibandingkan mereka. Ingat itu, Sam.’
Ayah, maafkan aku. Aku sudah lelah dengan teori usang tentang kasta itu.
Aku mengulurkan tangan kananku menyalaminya, “Sam.”
Dia tersenyum, “Nama yang sangat bagus dan cocok untuk orang dingin sekaligus hangat sepertimu.”
Ajaibnya, bersamaan dengan ucapan kalimat pujian pertamanya untukku itu. Salju turun untuk pertama kali di momen itu. Aku tidak tahu takdir yang akan datang padaku bersama seorang gadis yang sedang memandang ke arah langit itu.
Yang jelas, aku tidak akan sendirian lagi di hutan menakutkan ini. Biarlah hanya sementara, aku hanya ingin merasa aman, dan hangat.
🎶 Uri gyeouri omyeon kkok gobaekhago sipeosseo I say I love you🎶
“Ingin membuat boneka salju bersama?”
S E L E S A I
Song: Samuel - Winter Night
0 Komentar