Hangatnya kasur semakin membuat Jiho malas bergegas bangun, padahal harusnya pagi ini ia sudah harus bersiap untuk berangkat ke bandara. Pergi ke negeri paman sam untuk menyelesaikan pendidikannya, Jiho harus rela menjalin hubungan jarak jauh dengan kekasihnya, Jaehyun.
Suara derap langkah kaki dan ketokan pintu mulai terdengar di depan kamar, “Jiho-ya! Bangunlah, kau harus bersiap kan?”
“Eumh… 5 minutes again, grandma.”
“Bangun sekarang atau grandma akan mengirimmu ke tempat ayahmu sekarang!” ancam neneknya yang sukses membuat Jiho bangun dan terduduk di atas kasur.
“Iya… udah bangun kok,” ucap Jiho meyakinkan.
“Grandma tunggu di bawah 15 menit dari sekarang!”
Jiho segera bersiap karena neneknya itu pasti akan lebih cerewet lagi jika dia tidak segera bersiap sekarang. Dilihat sebuah frame foto di atas nakas, foto dirinya dan Jaehyun saat di Namsan Tower minggu lalu. Besok dan tidak tahu sampai kapan ia tidak akan lagi melihat langsung wajah lelaki itu.
Selamat tinggal, Jung Jaehyun.
. . .
Matahari bahkan belum memancarkan sinarnya, tetapi seorang pria dengan jas mantelnya sudah berjalan menuju studio latihannya.
“Hei, Jung Jaehyun! Tumben kau datang pagi sekali,” sapa seorang penjaga studio itu heran. Pasalnya, Jaehyun ini sering datang terlambat. Ketika ditanya alasannya, ia harus mengantarkan kekasihnya dulu ke suatu tempat.
“A-ah… aku sedang ingin berlatih saja,”
“Aku masuk dulu,” lanjut Jaehyun segera beranjak menuju studio tempat biasa ia berlatih.
Menjadi seorang idol harus profesional, dan mementingkan perasaan penggemar. Apalagi Jaehyun baru saja debut, jika ia ketahuan memiliki kekasih, kemungkinan karirnya akan hancur. Di samping itu, ayah dari wanita yang ia cintai meminta untuk segera menikahi anaknya.
Bahkan, sampai hari ini Jaehyun tidak tahu kabar Jiho setelah pertemuannya dengan ayah Jiho. Hanya ada sebuah pesan yang ia ketahui, itupun dari ayahnya.
📩Calon Ayah Mertua Galak💛
Jiho akan ku berangkatkan ke New York melanjutkan kuliahnya, aku tidak mau Jihoku berakhir dengan lelaki pengecut sepertimu.
Itulah yang memenuhi pikiran Jaehyun sekarang. Menengkan pikirannya, Jaehyun mulai berlatih menghafal koreografi untuk comeback solonya minggu depan.
. . .
Langit-langit dan dindingnya terlihat begitu antik, serta sebuah bendera berwarna merah dan biru lengkap dengan garis-garis juga bintangnya menggantung menambah kesan elegan. Sekilas Jiho terlihat kagum melihat pemandangan di depannya, ingin sekali ia memotret keindahan itu.
Tetapi, ponselnya yang berharga itu diambil paksa oleh ayahnya. Ayahnya tidak mau ia berhubungan lagi dengan Jaehyun, dan berakhir dengan mengirimnya ke New York. Jika, ia menolak akan terjadi hal lebih buruk lagi, mungkin saja ia akan dibawa langsung ayahnya ke Kanada. Memikirkannnya saja membuat bulu kuduk Jiho merinding, karena ayahnya itu sangat overprotektif padanya setelah Ibunya meninggal.
Tersadar dari lamunannya, Jiho menggeret kopernya mencari taksi menuju apertemennya. Tidak heran, Jiho pernah sesekali pergi ke New York untuk urusan bisnis dengan ayahnya. Sebuah kamar dengan ranjang king size diatasnya Jiho tergeletak dan menangis.
Ia merindukan Jaehyun.
. . .
Sudah terhitung 2 tahun setelah perpisahannya dengan Jiho. Karir Jaehyun cukup cemerlang beberapa tahun ini, penggemarnya juga sudah mulai dewasa dan sering meminta Jaehyun untuk segera mempunyai kekasih.
Jaehyun duduk di pinggir sungai Han sembari mengingat kenangannya dengan Jiho di tempat itu. Kini keputusannya sudah bulat, diambilnya ponsel dan mengetikkan sebuah pesan melalui e-mail.
From : jeahysxpr97@gmail.com
To : jihokims97@gmail.com
Subjek : Jiho, ini aku.
Aku sangat merindukanmu. Beristirahatlah, di sana pasti sudah sangat malam. Cuz your in New York and I am in Seoul, your last night will be my night soon. Jangan menangis, aku akan segera ke sana besok. I’ll tell you a thousand things, so that your heart won’t be shaken.
Reply by jihokims97@gmail.com
The long summer is gone, if you come here in a month. Cambria Hotel at 7 p.m.
Jaehyun tersenyum, dia masih menunggunya. Balasan dari Jiho itu membuat Jaehyun sangat senang dan bergegas pulang ke apertemennya untuk bersiap pergi ke bandara saat itu juga menuju kota New York.
. . .
Megah dan indahnya kota New York membuat hari Jaehyun lebih berwarna hari ini. Jaehyun menyusuri toko perbelanjaan dan masuk di sebuah toko perhiasan.
“Can I help u, sir?” ucap sang penjaga toko ramah.
“I want to buy a ring to propose to woman. Is there a golden blue?” tanya Jaehyun mengingat Jiho sangat menyukai warna biru. Katanya biru itu warna langit, dan berarti luas dan bebas. Dia sangat menyukai kebebasan.
“Ah… maybe this is what you want, sir,” jawab penjaga toko itu sembari menunjuk ke estalase di depannya.
“That’s right. I want to buy that,” ucap Jaehyun sumringah melihat cincin berwarna biru emas di depannya.
Setelah membayar di toko itu, Jaehyun juga pergi ke sebuah toko bunga. Seorang wanita tua dengan tongkat di lengan kanannya agak sedikit bungkuk menyapa Jaehyun di depan toko bunga.
“I know for sure you will propose to the person you love the most right?” tanya wanita itu.
“Yes, right. How do you know, miss?” Jaehyun kaget wanita tua itu mengetahui tujuannya, padahal ia tidak meberitahunya sama sekali.
“Your face told me,”
“Take care of her well, may your marriage last forever.”
“Of course, miss. Thank you,” ucap Jaehyun sumringah
. . .
.__________________________________________.
Akhir dari cerita kita akan selalu bahagia. Walaupun takdir ingin memisahkan kita, aku akan terus mengejarmu sampai takdir itu lelah, dan kita akan bersatu.
Selamanya.
Your Jaehyun.
.---------------------------------------------------------------.
SELESAI.
Selamanya.
Your Jaehyun.
.---------------------------------------------------------------.
SELESAI.


0 Komentar