(Putar video dan rasakan sensasinya)
♫Written in these walls are the stories that I can't explain I leave my heart open but it stays right here empty for days♫
Lorong kereta ini sungguh sepi, melihat pemandangan dibalik kaca ini membuatku kembali mengingat dia. Dia orang yang sangat aku cintai, namun harus ku relakan untuk selamanya pergi dari sisiku. Melodi dalam hidupku yang sangat aku sukai.
. . . .
Seorang gadis mungil melewatiku dengan senyumnya yang merekah. Tidak, senyum itu bukan untukku. Dia hanya menyapa sahabatku, Azriel.
"Kak Azriel," sapa ia tersenyum pada Azriel. Menyebalkan. Tidak bisakah ia mengendorkan bibir endorphinnya itu dan berhenti tersenyum.
"Ah... hai Melody! Kau akan bermain piano?" terka Azriel karena lorong ini memang jalan satu-satunya ke ruang musik yang sering kali di datanginya itu.
"Hmm... iya, kak. Sambil menunggu seseorang," jawabnya sambil melirikku sekilas. Hey! Berhentilah bersikap seperti itu atau aku akan menerkammu sekarang juga.
Sadarlah, Zaki. Dia macan betina, jangan terpengaruh akan jebakannya atau kau akan mati.
"Kalau begitu, Melody duluan ya, kak."
Netraku tak henti melihatnya sampai punggung mungil itu menghilang di balik pintu ruang musik di ujung lorong.
Azriel menatapku menelisik, "Cantik?"
"Sangat cantik," ucapku spontan dan mengundang tawa Azriel yang semakin terdengar menjengkelkan.
"Hahaha... Zaki, jika kau menyukainya lebih baik kau bertindak sekarang atau Lucas akan mendahuluimu."
"Lucas?"
"Yah... kau tidak tahu? Melody sangat terkenal dikalangan senior karena selain parasnya yang cantik, menguasai berbagai alat musik, sikapnya juga sangat manis dan menggemaskan," terang Azriel merekah. Penjelasannya itu sungguh tidak berguna.
Aku akui dia memang cantik, tubuhnya yang mungil itu terlihat sangat menggemaskan, senyumnya, bibirnya, ... argh! Azriel sialan.
"Kau duluan saja, ada sesuatu yang harus ku lakukan," aku berjalan menjauhi Azriel yang masih setia dengan senyumnya yang mengejek.
. . . .
Aku memandangi pintu di depanku itu, dari luar terdengar melodi mengalun indah di indera telinga. Aku yakin siapapun yang mendengar, pasti menyukainya.
Perlahan aku membuka pintu agar tak mengganggu orang yang sedang memainkan jari lentiknya di atas tuts piano itu. Namun, nihil. Ternyata ia sangat peka menyadari keberadaanku di sini.
"Kau sudah datang?"
"Eh... ehem! Seperti yang kau lihat," jawabku pura-pura acuh.
"Eiy... aku tahu pasti kau cemburu lagi kan?" wajah tengilnya itu mulai menggodaku lagi.
Aku tidak menjawabnya, melangkah lurus ke arahnya yang masih memakai wajah tengilnya itu. Ku rasa memeluknya saat ini akan meredakan keinginanku untuk menghajar pria bernama Lucas itu.
. . . .
♫She told me in the morning she don't feel the same about us in her bones It seems to me that when I die these words will be written on my stone♫
Aku tidak tahu pertemuanku dengan Yerim waktu itu sangat berdampak padanya. Walau teman-temanku kecuali Azriel, tidak mengetahui hubunganku dengan Melody dan menjodohkanku dengan Yerim. Aku tidak akan pernah menyukai Yerim.
Netra mataku terus mencari keberadaan tubuh mungil itu di segala penjuru kampus, kafe yang sering kami kunjungi, tempat kenangan kami, bahkan rumahnya. Tidak ada satupun tanda keberadaan dirinya.
Di mana kau, Melody. Ku mohon jangan sakiti dirimu lagi. Aku tidak mau, jika aku yang menjadi alasanmu menyakiti diri.
Melody, tolong beritahu aku di mana dirimu. Aku ingin mendekapmu sekarang juga dalam pelukanku.
. . . .
"Kau tahu, Zak. Keadaan kita sudah sangat berbeda. Aku merasa tidak pantas untukmu, pergilah."
"Tidak. Aku tak mengira kau menyerah padaku karena hal sepele itu, aku tidak mengerti pemikiranmu itu," balasku tidak terima.
"Zak...."
"Aku mencintaimu, Melody. Jangan pergi tetaplah di sisiku. Selamanya."
"Zak, aku tidak pantas untukmu. Aku sadar akan hal itu, aku hanya seorang wanita yang sudah gila kau tahu itu kan? Lihatlah keadaanku sekarang," dia menunjukkan seluruh luka yang ia buat sendiri di tubuhnya. Hatiku merasa sakit, aku tidak bisa menjaganya. Lagi.
"Jika kau tidak ingin pergi, biar aku yang pergi. Aku sudah tidak bisa mencintaimu, Zak. Ku harap kau mengerti," ucapnya mengambil ranselnya pergi meninggalkanku.
Semua salahku.
Yah, semua itu salahku
Bodoh kau, Zak.
Aku merutuki diriku sendiri di kereta yang sunyi, aku harap waktu dapat kembali, dan aku akan memperbaiki semuanya.
Namun, nyatanya waktu tidak akan pernah terputar kembali. Tidak seperti melodi yang bisa kau putar berulang kali untuk mendengar keindahannya. Waktu akan terus berjalan lurus. Tanpa pamrih.
. . . .
✉Melodiku
Zak, Aku tahu kau pasti tidak menerima keputusanku ini. Tetapi, inilah akhirnya. Ku harap kau baik-baik saja, jaga dirimu. Aku mencintaimu untuk yang terakhir.


0 Komentar