1. Penerima
Saat anak cerita jadi korban bully, orangtua jangan marah-marah tapi najarkan anak untuk menerima. Tentu saja bukan menerima di-bully atau menerima perlakuan yang tidak menyenangkan. Namun menerima bahwa hal tersebut memang sudah terjadi.
"Enggak bisa kita bilang 'udah lupain aja'. Bagi yang menjadi korban bully itu tidak mudah," kata Yasinta dalam acara Yupi Speak Up!.
Kemudian bantu anak untuk melakukan hal-hal guna meminimalisir menjadi korban bully kembali. Misalnya tidak dekat-dekat dengan orang yang sering mengerjai.
2. Mengetahui potensi diri
Faktor fisik kerap jadi sasaran empuk melakukan perundungan terhadap seserorang. Misalnya kulit hitam, putih pucat, jenong, keriting, bahkan yang cantik juga bisa jadi sasaran bully.
"Di-bully karena cantik, ya gimana, memang dari sananya begini. Lalu, bikin fun ejekan yang dilayangkan. Misalnya dibilang gendut, ya emang begini saya," contoh Yasinta.
Lalu, fokuslah pada potensi diri. Misalnya cantik, tinggi, senang berada di hadapan umum, mengapa tidak fokus berlatih menjadi model. Jika jago menggambar, mengapa tidak terus berlatih agar menggambar.
3. Fokus
Setelah tahu potensi diri, fokus pada hal tersebut. Jadi, mau diejek apapun juga, terserah.
Fokus pada hal yang disukai atau potensi tersebut lama-kelamaan bakal memberi dampak positif. Jika sampai berprestasi, bisa menunjukkan ke orang lain bahwa anak juga mampu.
"Dengan orangtua mengajarkan tiga hal ini, anak pasti bisa melewati masa-masa ini. Namun memang enggak mudah melewati proses tersebut," tandas Yasinta.
1 Komentar
good
BalasHapus